Oleh: Rusdin Jurusan Administrasi Bisnis FISIP Unpad
ABSTRAK Penelitian
ini didasarkan pada penelitian Gounaris dan Karin (2002:637) bahwa
keputusan klien untuk menjalin hubungan dengan agennya dan selanjutnya
berinvestasi selama hubungannya tersebut dipengaruhi oleh sejauh mana
klien percaya kepada agen. Tingkat kepercayaan yang dibangun selama
menjalin hubungan tergantung pada kualitas yang ditawarkan agen dan
kesuksesan dengan agen melahirkan keterikatan dengan klien. Selanjutnya
lamanya menjalin hubungan antara agen dengan klien dipengaruhi oleh
antara lain kualitas pelayanan maupun keterikatan dengan klien yang
pada gilirannya diduga berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan klien
kepada agen. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey
dengan tujuan untuk menguji hipotesis mengenai pengaruh kualitas
pelayanan dan keterikatan klien terhadap kepercayaan dan keinginan
menjadi relasi balai iklan. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa: (1)
Kepercayaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keinginan
menjadi relasi (relationship intentions) pada klien Balai Iklan, dengan
tingkat pengaruh yang rendah; (2) Kepercayaan (trust) memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap pemeliharaan hubungan (maintain relationship)
pada klien Balai Iklan, dengan tingkat pengaruh yang rendah; (3)
Kepercayaan (trust) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
investasi berhubungan (invest in relationship), dalam tingkat pengaruh
yang cukup; (4) Kualitas jasa yang diterima dan customer bonding
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepercayaan klien terhadap
penyedia jasa, dengan tingkat pengaruh yang rendah. Secara umum hasil
penelitian ini sejalan dengan konsep serta data penelitian yang
dikemukakan oleh Gounaris dan Venetis (2002).
Keywords: relationship
intentions, trust, maintain relationship, invest in relationship,
customer bonding
1. Pendahuluan Industri manufaktur memainkan peranan
semakin penting dalam revolusi global saat ini, dan pada masa mendatang
adalah sektor industri jasa. Industri yang sedang mengalami
perkembangan cukup pesat adalah industri jasa, bahkan secara umum
industri manufaktur saat ini juga dikemas bersama-sama dengan industri
jasa dengan tujuan meningkatkan kepuasan konsumen yang pada gilirannya
akan meningkatkan volume penjualan atau bahkan loyalitas. Salah satu
perusahaan jasa yang berkembang seiring dengan perkembangan teknologi
informasi dan meningkatnya aktivitas bisnis media adalah jasa
periklanan. PT Balai Iklan di Bandung merupakan jasa periklanan yang
sudah lama berdiri. Perusahaan periklanan yang didirikan tahun 1952
oleh Tjetje Senaputra ini, menghimpun klien-kliennya dari beberapa toko
kelontong lokal. Hingga tahun 1960 perusahaan ini masih menggantungkan
usahanya pada iklan-iklan mini, utamanya iklan lowongan kerja, jual
beli mobil atau penyewaan rumah. Mulai dengan modal Rp.250.000,- dan
dikelola oleh 3 orang, hingga delapan tahun kemudian mempekerjakan 15
orang karyawan yang digaji antara Rp.50.000,- sampai Rp.300.000,-.
Usaha Balai Iklan termasuk yang dianggap berkembang sangat cepat saat
itu. Setelah itu nilai penjualannya pun dari tahun ke tahun terus
meningkat. Pada awal 1960-an omsetnya tidak lebih dari Rp.24 juta akan
tetapi tujuh tahun kemudian menjadi Rp.50 juta (BPS, 1962-63). Hasil
ini umumnya diperoleh dengan mengerahkan tenaga-tenaga kolportir atau
pencari iklan. Meskipun demikian, sejak tahun 1968 Balai Iklan tidak
lagi menggunakan tenaga kolportir, karena pemasang iklan sudah mulai
datang sendiri ke kantor perusahaan. Catatan juga ditemukan dari
petugas bagian iklan harian Pikiran Rakyat, Bandung yang menyebutkan
bahwa walaupun ada empat perusahaan periklanan besar di Bandung, Balai
Iklan merupakan yang terbanyak memuat iklan pada harian tersebut.
Meskipun sebagian besar masih berupa iklan mini. Sejalan dengan
kesinambungan aktivitas Balai Iklan membuatnya memperoleh pengkuan
bonafiditas oleh Serikat Pekerja Suratkabar (SPS) Pusat, melalui
keputusan No.342/VIII/60/XIV, 10 Agustus 1960. Kondisi tersebut terus
berkembang, dan saat ini Balai Iklan tetap memiliki eksistensi yang
cukup baik dalam bidang jasa periklanan. Akan tetapi di tengah
persaingan yang sangat ketat, dimana banyak sekali perusahaan sejenis
yang bermunculan, maka Balai Iklan harus memperhatikan adanya
relationship dengan klien. Dalam business to business ( B to B)
marketing, penjualan belum tentu menjadi hasil dari adanya suatu
hubungan. Hal inilah yang kadang menyebabkan hubungan jangka panjang
antara keduanya menjadi mudah berubah. Isu tentang upaya membangun
kepercayaan dalam hubungan merupakan tugas khusus bagi pemasar B to B
dalam kaitannya untuk memperoleh dan memelihara klien (Webster, 1991).
Walaupun kepercayaan ini merupakan hal yang penting tetapi kajian
tentang aspek ini terhambat karena: (1) penelitian akademik tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan dalam pemasaran relasional
masih terbatas, (2) Masih adanya kegagalan untuk memisahkan kepercayaan
dari faktor-faktor yang terkait dengannya, misalnya faktor yang
membangun kepercayaan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya (Moorman
et al, 1993). Dengan demikian perlu diteliti faktor-faktor yang
menyebabkan terbentuknya kepercayaan dalam pemasaran relasional.
Penelitian ini didasarkan pada penelitian Gounaris dan Karin (2002:637)
yang mengemukakan bahwa:
The client's decision to maintain its
relationship with the service provider and to further invest in this
relationship is influenced by the extent to which the client trust the
service provider. The extent to which trust is developed in their
relationship depends on the quality of the service offered by the
provider and on the success with which the provider develops bonds with
its client. However, the length of the relationship that provider has
with the client is conceived as moderating the influence of both the
service quality and the customer bonding on the extent to which the
client trust the service.
Berdasarkan konsep di atas maka dapat
diketahui bahwa keputusan klien untuk menjalin hubungan dengan agennya
dan selanjutnya berinvestasi selama hubungannya tersebut dipengaruhi
oleh sejauh mana klien percaya kepada agen. Tingkat kepercayaan yang
dibangun selama menjalin hubungan tergantung pada kualitas yang
ditawarkan agen dan kesuksesan dengan agen melahirkan keterikatan
dengan klien. Selanjutnya lamanya menjalin hubungan antara agen dengan
klien dipengaruhi oleh antara lain kualitas pelayanan maupun
keterikatan dengan klien yang pada gilirannya diduga berpengaruh
terhadap tingkat kepercayaan klien kepada agen. Dalam membina hubungan
jangka panjang antara klien dengan agennya diperlukan upaya untuk
membangun kepercayaan klien terhadap agennya. Kepercayaan tersebut
diduga dapat meningkatkan keinginan klien untuk tetap berinvestasi pada
agennya atau menjadi relasi. Berdasarkan penelitian Gounaris dan
Venetis (2002) diduga bahwa kualitas jasa berperan dalam membentuk
keterikatan dan membangun kepercayaan klien terhadapa agennya.
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka masalah dalam penelitian
ini dirumuskan sebagai berikut:
(1) Apakah terdapat pengaruh
kepercayaan (trust) terhadap keinginan menjadi relasi (relationship
intension) klien terhadap Balai Iklan;
(2) Apakah terdapat pengaruh
kepercayaan (trust) terhadap upaya memeliharan hubungan (maintain
relationship) klien Balai Iklan;
(3) Apakah terdapat pengaruh
kepercayaan (trust) terhadap investasi berhubungan (invest in
relationship) klien Balai Iklan;
(4) Apakah terdapat pengaruh dari
kualitas jasa yang dirasakan (perceived service quality) dan
keterikatan pelanggan (customer bonding) terhadap tinggi rendahnya
kepercayaan klien Balai Iklan.
2. Landasan Teori Pengertian kualitas
sangat beraneka ragam. Para pakar kualitas di bidang ini memiliki
definisi yang berlainan karena adanya perbedaa perspektif atau
pandangan yang digunakan. Crosby mendefinisikan kualitas sebagai sama
dengan persyaratannya. Deming menyatakan bahwa kualitas merupakan suatu
tingkat yang dapat diprediksi dari keseragaman dan ketergantungan pada
biaya rendah dan sesuai dengan pasar, sedangkan J.M Juran
mengartikannya sebagai cocok untuk digunakan (fitness for use), dan
definisi ini memiliki dua aspek utama yaitu ciri-ciri produk yang
memenuhi permintaan pelanggan dan bebas dari kekurangan. Menurut David
Garvie (Tjiptono dan Diana, 1996:24) terdapat lima alternatif
perspektif kualitas yang biasa digunakan, yaitu: (1) Trancedental
Approach, biasanya diterapan dalam seni musik, drama seni tari, dan
seni rupa, sehingga kualitas dalam pendekatan ini dapat dirasakan dan
diketahui tetapi sulit dioperasionalkan dan dijabarkan; (2) Product
Based Approach, Pendekatan ini menggarap kualitas sebagai karakteristik
atau atribut yang dapat dikuantitatifkan dan dapat diukur. Pandangan
ini sangat obyektif, maka tidak dapat menjelaskan perbedaan dalam
selera, kebutuhan dan preferensi individual; (3) User Based Approach,
Pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada
orang yang memandangnya, dan produk yang paling memuaskan seseorang
merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Pelanggan yang berbeda
memiliki kebutuhan atau keinginan yang berbeda pula, sehingga kualitas
bagi seseorang sama dengan kepuasan makasimum yang dirasakannya; (4)
Manufacturing Based Approach, Pendekatan ini bersifat supply-based dan
terutama memperhatikan faktor-faktor perekayasaan dan pemanufakturan,
serta mendefinisikan kualitas sebagai sama dengan persyaratannya
(conformance to requirements). Dalam sektor jasa, dapat dikatakan
kualitasnya bersifat operations-driven. Pendekatan ini berfokus pada
penyesuaian spesifikasi yang dikembangkan secara internal ,yang
seringkali didorong oleh tujuan peningkatan produktivitas dan penekanan
biaya. Jadi yang menentukan ualitas adalah syandar-standar yang
ditetapkan perusahaan, bukan konsumen yang menggunakannya; (5) Value
Based Approach, Pendekatan ini memandang kualitas dari segi nilai dan
harga. Kualitas dalam perspektif ini bersifat relatif, sehingga produk
yang memiliki kualitas tinggi belum tentu produk yang paling bernilai,
akan tetapi yang paling bernilai adalah produk atau jasa yang paling
tepat dibeli. Menurut Zeithaml, Parasuraman, dan Berry (1990, p.19),
definisi kualitas jasa adalah ”the extent of discrepancy between
customer expectation or desires and their perception”. Yaitu adanya
perbedaan antara harapan pelanggan tentang suatu jasa dan apa yang
dirasakan atau diterima pelanggan sesungguhnya. Jadi terdapat dua
faktor utama yang mempengaruhi jasa yaitu jasa yang diharapkan
(expected service) dan jasa yang diterima atau dirasakan (perceived
service). Apabila perceived service sesuai dengan expected service,
maka kualitas yang dirasakan baik dan memuaskan, begitu pula
sebaliknya. Menurut Zeithaml, Parasuraman, dan Berry (1990, p.19-20),
faktor-faktor yang mempengaruhi harapan pelanggan adalah: (1) Word of
Mouth Communication, Rekomendasi atau saran orang lain merupakan
pernyataan yang disampaikan orang lain selain organisasi kepada
pelanggan. Hal ini biasanya disampaikan oleh orang-orang yang dipercaya
pelanggan, dan cepat diterima sebgaai referensi karena pelanggan jasa
biasanya sulit mengevaluasi jasa yang belum dibelinya atau belum
dirasakannya sendiri; (2) Personal Need, Kebutuhan yang dirasakan
seseorang sesuai dengan apa yang menjadi ukuran kesejahteraannya
sehingga akan sangat menentukan harapannya. Kebutuhan tersebut meliputi
kebutuhan fisik, sosial, dan psikologis dan antara orang yang satu
dengan yang lainnya bisa berbeda-beda; (3) Past Experience, Pengalaman
jasa masa lampau meliputi hal-hal yang telah dipelajari atau diketahui
pelanggan dari yang pernah diterimanya di masa lalu. Harapan pelanggan
ini semakin lama semakin berkembang, seiring dengan makin banyaknya
informasi yang diterima oleh pelanggan serta semakin bertambahnya
pengalaman pelanggan; (4) External Communication from Service Provider,
Yaitu janji-janji yang diberikan oleh karyawan dan perusahaan penyedia
jasa kepada konsumen. Komunikasi eksternal ini dapat berupa kata-kata
dalam iklan, ucapan dari karyawan atau penetapan harga. Biasanya harga
yang tinggi diasumsikan oleh konsumen bahwa kualitasnya juga harus
tinggi. Zeithaml, Parasuraman, dan Berry (1990) juga mengemukakan lima
dimensi pokok yang berkaitan dengan kualitas jasa. Yaitu: (1) Tangibles
(berwujud), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan sarana
komunikasi; (2) Reliability (keandalan), yaitu kemampuan memberikan
pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan; (3)
Responsiveness (daya tanggap), yaitu keinginan para staf untuk membantu
para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan cepat; (4) Assurance
(jaminan), mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan dan sifat dapat
dipercaya yang dimiliki para staf, bebas dari bahaya, resiko dan
keragu-raguan.dengan mudah dan juga dirancang agar dapatr fleksibel
dalam menyesuaikan permintaan dan keinginan pelanggan; (5) Reliability
and Trustworthiness, termasuk dalam process-related criteria, di mana
pelanggan memahami bahwa apapun yang terjadi, mereka dapat
mempercayakan segala sesuatunya kepada penyedia jasa beserta karyawan
dan sistemnya; (6) Recovery, termasuk dalam process-related criteria,
dimana pelanggan menyadari bahwa bila ada kesalahan atau terjadi
sesuatu yang tidak diharapkan, maka penyedia jasa segera mengambil
tindakan untuk mengendalikan situasi dan mencari pemecahan yang tepat;
(7) Reputition and Credibility, merupakan image-related criteria,
dimana pelanggan meyakini bahwa operasi dari penyedia jasa dapat
dipercaya dan memberikan nilai atau imbalan yang sesuai dengan
pengorbanannya. Albrecht (Sarwarjiwono,1992) memberikan pendekatan
bagaimana manajemen/perusahaan memberikan layanan bermutu kepada
pelanggan, yaitu dengan pendekatan yang disebut service triangle, yaitu
suatu model interaktif manajemen jasa yang mencerminkan hubungan antara
perusahaan dengan para pelanggan. Model tersebut terdiri dari tiga
elemen, yaitu: 1. Service Strategy, yaitu memberikan layanan dengan
mutu yang sebaik mungkin kepada para pelanggan. Strategi layanan yang
efektif harus didasari oleh konsep atau misi yang dapat dengan mudah
dimengerti oleh seluruh individu di dalam perusahaan dan diikuti oleh
berbagai tindakan nyata yang bermanfaat bagi para pelanggan dan mampu
membedaan perusahaan yang menerapkan strategi tersebut dengan para
pesaingnya sehingga perusahaan mampu mempertahankan para pelanggan yang
ada, bahkan merebut pelanggan-pelanggan baru. 2. Service People, sumber
daya manusia yang memberikan layanan digolongkan dalam tiga kelompok
yaitu: a. Sumber daya manusia yang berintenraksi langsung dengan para
pelanggan b. Sumber daya manusia yang memberikan layanan tetapi hanya
kadangkala berinteraksi langsung. c. Sumber daya manusia pendukung
Dengan demikian, perusahaan harus menekankan budaya perusahaan yang
menitikberatkan pada layanan kepada para pelanggan, lingungan kerja
yang kondusif. Dalam business to business marketing pendekatan kualitas
jasa perlu dikonseptualisasikan berdasarkan dimensi dari kualitas jasa.
Berdasarkan konsep dari Gronroos (1982) dalam Gounaris dan Venetis
(2002:640) terdapat tiga tingkatan yang berbeda dari konsep kualitas,
yaitu: (1) hard quality, pertaining to what is being performed during
the service process (2) soft quality, pertaining to how the service is
performed during the service process (3) outcome quality, pertaining to
eventual accomplishment of provider Sejalan dengan pendapat di atas,
Szimigin (1993) mengemukakan bahwa hard and soft quality merupakan dua
dimensi yang menjelaskan proses jasa itu sendiri dengan dilanjutkan
oleh kontak dan interaksi dengan klien. Banyak ahli yang telah
mendefinsikan pengertian trust (kepercayaan). Dalam konteks busines to
business marketing, Anderson dan Narus (1990) mendefinisikan
kepercayaan sebagai berikut: Trust as a belief that another company
will perform actions that will result in positive outcomes for the firm
while not taking actions that would result in negative outcomes.
Berdasarkan definisi di atas kepercayaan merupakan keyakinan suatu
perusahaan terhadap perusahaan lainnya bahwa perusahaan lain tersebut
akan memberikan outcome yang positif bagi perusahaan. Sementara itu,
Moorman et al (1993) mengemukakan definisi tentang kepercayaan yang
tidak jauh berbeda dengan definisi di atas serta menjelaskan adanya
pernyataan antara kedua belah pihak yang terlibat dalam suatu hubungan.
Salah satu pihak dianggap berperan sebagai controlling assets (memiliki
sumber-sumber, pengetahuan) sementara pihak lainnya menilai bahwa
berbagi penggunaan sumber-sumber tersebut dalam suatu ikatan akan
memberikan manfaat. Keyakinan pihak yang satu terhadap pihak yang lain
akan menimbulkan perilaku interaktif yang akan memperkuat hubungan dan
membantu mempertahankan hubungan tersebut. Perilaku tersebut akan
meningkatkan lamanya hubungan dengan memperkuat komitmen di dalam
hubungan. Pada akhirnya, kepercayaan akan menjadi komponen yang
bernilai untuk menciptakan hubungan yang sukses. Kepercayaan tersebut
juga mengurangsi risiko dalam bermitra dan membangun hubungan jangka
panjang serta meningkatkan komitmen dalam berhubungan. Faktor yang
diduga mempengaruhi kepercayaan antara lain dikemukakan oleh Gounaris
dan Veneris (2002:639) yaitu mengenai service quality sebagai anteseden
bagi terbentuknya kepercayaan. Morgan dan Hunt (1994) menjelaskan bahwa
trust is positively associated with the extent to which the firm
involved in the relation share the same values and timely information
to solve disputes and align perception expectation. Ganesan (1994) juga
mempelajari mengenai upaya membangun kepercayaan antara pemasok dengan
pembeli dalam satu saluran distribusi. Pengaruh dari reputasi, kepuasan
di masa lalu, pengalaman dengan mitra dan persepsi tentang investasi
pihak lain yang dipergunakan dalam membina hubungan. Hasil studi ini
menunjukkan bahwa dari perspektif pembeli reputasi supplier dan
investasinya dalam membina hubungan tersebut merupakan hal yang penting
dalam membangun kepercayaan. Dari sisi perspektif pemasok bahwa hanya
kepuasan di masa lalu yang berpengaruh dalam membentuk kepercayaan
pembeli. Moorman, et al (1993) menyelidiki hubungan antara agen riset
pemasaran dan kliennya untuk melihat bagaimana upaya membangun
kepercayaan dari perspektif klien. Hasil analisis menunjukkan bahwa
kemampuan agen dalam menjalankan tugas secara positif mempengaruhi
kepercayaan klien terhadap agen. Di samping faktor-faktor di atas
dikemukakan bahwa customer bonding merupakan anteseden bagi adanya
kepercayaan. Cross dan Smith (1996) mengemukakan pandangan yang terkait
dengan hal ini yaitu bahwa sebelum trust ada maka harus ada yang
disebut dengan minimum guarantees. Dalam kaitan ini teknik customer
bonding yang efisien akan mengarahkan pada upaya untuk mengurangi
ketidakpastian dari hasil atas hubungan tersebut. Dengan demikian
customer bonding juga diduga memiliki pengaruh atas adanya kepercayaan.
Cross dan Smith (1996) mendefinisikan customer bonding sebagai berikut:
Bonding describes as a process through which provider and the buyer
develop and sustain mutually rewarding relationship (Ikatan adalah
suatu proses dimana penyedia dan pembeli mengembangkan serta
mempertahankan kerjasama yang saling menguntungkan). Dalam konteks ini
Wilson dan Mummalaneni (1988) menganjurkan suatu model proses yang
menjelaskan bagaimana hubungan antara dua pihak dapat tumbuh. Dalam
studi tersebut dijelaskan mengenai dua kategori ikatan yaitu: ikatan
struktural dan ikatan sosial. Ikatan struktural dikonseptualisasikan
sebagai ikatan perusahaan yang tercipta dalam suatu hubungan. Ikatan
ini tumbuh diluar hubungan yang tumbuh antara individual dari dua
organisasi yang berinteraksi dalam konteks hubungan (Wilson dan
Mummalaneni, 1998; Turnbull dan Wilson, 1989). Ikatan yang terjadi
dapat disebabkan oleh adanya kepentingan ekonomi, teknis, waktu,
pengetahun dan alasan-alasan lain (Paliwoda dan Thomson, 1986; Halinen,
1994). Walaupun buruknya kinerja jasa dalam menyebabkan pelanggan untuk
mengubah pilihan perusahaannya, tetapi masih ada sebab-sebab lainnya.
Bitner (1990) mengemukakan tentang pengaruh dari hambatan waktu dan
uang, akses terhadap informasi, kebiasaan dan seterusnya terhadap
loyalitas serta komitmen pada terciptanya hubungan. Penelitian yang
dilakukan oleh Halinen (1994) dikemukakan bahwa ikatan yang terjadi
dalam industri periklanan, menyebabkan terjadinya ikatan sosial (social
bonds) yaitu: (1) the confidential information gains about the client
goal (kerahasiaan informasi tentang tujuan klien), (2) internal
policies or business (kebijakan internal atau kebijakan bisnis), (3)
inter organizational agreements (perjanjian intra organisasional), (3)
routines ( rutinitas), (4) norm of conduct that develop in relationship
making coordination easier and more efficient (norma yang dijadikan
arahan dalam menciptakan hubungan dan koordinasi menjadi lebih mudah
dan lebih efisien) (5) cost (monetary and non monetary) that client can
expect to suffer if switching from its current agency (biaya moneter
dan non moneter yang akan diderita oleh klien jika mengubah pilihan
agennya). Ikatan sosial merupakan ikatan yang lebih kuat akan
menyebabkan klien sulit mengakhiri hubungan dengan provider yang ada.
Menurut Wilson dan Mummalaneni (1988) hubungan yang ada dalam interaksi
individual dari dua organisasi merupakan hal yang penting untuk
menguatkan komunikasi antar organisasi dan pertukaran informasi yang
meningkatkan hubungan secara keseluruhan. Dalam ikatan sosial tercakup
perasaan suka, menerima, persahabatan dan sebagainya. Bagaimanapun,
pembeli yang memiliki ikatan sosial yang kuat dengan provider-nya
cenderung lebih memiliki komitmen untuk memelihara hubungan (Wilson dan
Mummalaneni, 1988). Dengan demikian, jika ikatan sosial dibandingkan
dengan ikatan struktural lebih mudah untuk diakhiri. Dalam penelitian
Gounaris dan Venetis (2002) dikemukakan bahwa: Trust is a critical
factor in facilitating exchange relationships, the authors investigate
with empirically derived data the role of service quality and customer
bonding as antecedents of trust (Kepercayaan merupakan factor penting
dalam menjalin hubungan secara timbale balik. Di samping itu, secara
empiris dapat diteliti peranan kualitas pelayanan dan keterikatan
pelanggan sebagai penyebab adanya kepercayaan). Lebih jauh dikemukakan
pula bahwa: to that end, trust can be regarded as a valuable component
of any successful relationship (Morgan dan Hunt, 1994) by functioning
as a lever for reducing the risk associated with partnering, the
development of long term relationship and increasing the commitment in
relationship (Anderson dan Weitz, 1992; Ganesan, 1994; Gayskens dan
Steenkamp, 1994). Dengan demikian kepercayaan dapat ditinjau sebagai
komponen yang berharga dalam setiap keberhasilan menjalin hubungan dan
lebih jauh berfungsi sebagai upaya untuk mengurangi risiko serta
membangun hubungan jangka panjang dan meningkatkan komitmen.
Berdasarkan teori di atas diajukan hipotesis: (1) Terdapat pengaruh
yang signifikan antara kepercayaan terhadap keingiinan menjadi relasi
(relationship intentions); (2) Terdapat pengaruh yang signifikan antara
kepercayaan (trust) terhadap pemeliharaan hubungan (maintain
relationship); (3) Terdapat pengaruh yang signfikan antara kepercayaan
(trust) terhadap investasi berhubungan (invest in relationship); (4)
Pengaruh dari kualitas jasa yang diterima dan customer bonding terhadap
kepercayaan klien dan penyedia jasa.
3. Metode Penelitian Penelitian
ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Spiros P. Gounaris dan
Karin Venetis (2002). Metode penelitian yang digunakan adalah metode
survey dengan tujuan untuk menguji hipotesis mengenai pengaruh kualitas
pelayanan dan keterikatan klien terhadap kepercayaan dan keinginan
menjadi relasi balai iklan. Kualitas pelayanan dianalisis berdasarkan 5
(lima) dimensi yaitu: Kualitas potensial, kualitas proses perangkat
keras, kualitas hasil secara finansial, kualitas hasil (antara) dan
kualitas perangkat lunak. Kualitas potensial memuat 4 (empat) indikator
sebagai berikut: Peralatan potensial, Pelayanan penuh (full service),
Keterkaitan dengan media, Penggunaan jaringan. Selanjutnya responden
diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai komponen-komponen tersebut
berdasarkan pada 5 (lima) poin skala Likert, mulai dari 1 = sangat
tidak baik sampai dengan 5= sangat baik. Kualitas proses perangkat
keras menganalisis 4 (empat) indikator yaitu: (1) Kesesuaian perangkat
keras yang tersedia dengan anggaran; (2) Sebagai sarana untuk menjaga
ketepatan jadwal; (3) Pengecekan secara rinci; (4) Adaptasi/Kemudahan
dalam perbaikan. Selanjutnya responden diminta untuk menjawab
pertanyaan mengenai komponen-komponen tersebut berdasarkan pada 5
(lima) poin skala Likert, mulai dari 1 = sangat tidak baik sampai
dengan 5= sangat baik. Kualitas hasil secara final diukur melalui 4
(empat) indikator yaitu: (1) Pencapaian sasaran; (2) Kemampuan untuk
mempengaruhi target market; (3) Kemampuan untuk mempengaruhi penjualan;
(4) Kemampuan untuk mempengaruhi citra perusahaan. Selanjutnya
responden diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai komponen-komponen
tersebut berdasarkan pada 5 (lima) poin skala Likert, mulai dari 1 =
sangat tidak baik sampai dengan 5= sangat baik. Kualitas hasil (antara)
diukur dengan menggunakan 5 (lima) indikator yaitu: (1) Kreativitas dan
nilai inovatif; (2) Kesusuaian dengan strategi; (3) Memberikan apa yang
dijanjikan; (4) Diterima oleh perusahaan; (5) Efisiensi dari segi
biaya. Selanjutnya responden diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai
komponen-komponen tersebut berdasarkan pada 5 (lima) poin skala Lokert,
mulai dari 1 = sangat tidak baik sampai dengan 5= sangat baik. Kualitas
perangkat lunak diukur melalui 7 (tujuh) indikator sebagai berikut: (1)
Mendengarkan dengan cermat ide-ide yang dikemukakan; (2) Menepati apa
yang dijanjikan; (3) Tanggap terhadap permasalahan dan menawarkan
solusinya; (4) Menujukkan sikap bersahabat; (5) Memahami apa yang
diperlukan; (6) Memberi perhatian terhadap yang kita butuhkan; (7)
Memberikan penjelasan atas apa yang tidak disetujui. Selanjutnya
responden diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai komponen-komponen
tersebut berdasarkan pada 5 (lima) poin skala Likert, mulai dari 1 =
sangat tidak baik sampai dengan 5= sangat baik. Keterikatan dengan
pelanggan ditinjau dari tiga dimensi yaitu (1) Keterikatan secara
personal, (2) keterikatan secara integrasi, (3) keterikatan secara
kontrak. Keterikatan secara personal dianalisis melalui 5 (lima)
indikator yaitu: (1) Agen menyesuaikan dengan keinginan klien; (2)
Adanya pertukaran pengetahuan; (3) Keterikatan dengan agen merupakan
investasi yang berharga; (4) Mendapatkan informasi dari agen secara
teratur; (5) Memiliki keseusaian kepribadian dengan agen. Selanjutnya
responden diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai komponen-komponen
tersebut berdasarkan pada 5 (lima) poin skala Lokert, mulai dari 1 =
sangat tidak baik sampai dengan 5= sangat baik. Keterikatan secara
integral diukur melalui 2 (dua) indikator sebagai berikut: (1)
Frekuensi saling kontak; (2) Intensitas saling kontak. Selanjutnya
responden diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai komponen-komponen
tersebut berdasarkan pada 5 (lima) poin skala Likert, mulai dari 1 =
sangat rendah sampai dengan 5= sangat tinggi. Keterikatan secara
kontrak diukur melalui 3 (tiga) indikator sebagai berikut: (1)
Dilakukan perjanjian berupa kontrak dalam jangka waktu tertentu; (2)
Kontrak disesuaikan dengan kebijakan internal perusahaan; (3) Investasi
dilakukan dalam bentuk waktu. Selanjutnya responden diminta untuk
menjawab pertanyaan mengenai komponen-komponen tersebut berdasarkan
pada 5 (lima) poin skala Likert, mulai dari 1 = sangat tidak setuju
sampai dengan 5= sangat setuju. Variabel kepercayaan diukur melalui 6
(enam) indikator yaitu: (1) Melaksanakan pekerjaan dengan baik walaupun
tidak dikontrol; (2) Membuat keputusan penting tanpa melibatkan klien;
(3) Tidak ada keinginan untuk bertanya-tanya tentang pekerjaan yang
terkait dengan perusahaan saya; (4) Memperhatikan dengan penuh
ketulusan; (5) Tidak perlu mengecek secara berulang-ulang selama agen
bekerja; (6) Klien percaya secara menyeluruh atas pekerjaan yang
dibebankan kepada agen. Selanjutnya responden diminta untuk menjawab
pertanyaan mengenai komponen-komponen tersebut berdasarkan pada 5
(lima) poin skala Likert, mulai dari 1 = sangat tidak setuju sampai
dengan 5= sangat setuju. Keinginan untuk Menjadi Relasi, diukur melalui
3 (tiga) indikator yaitu: (1) Berminat untuk bekerjasama dalam jangka
panjang; (2) Ingin memelihara hubungan baik dengan agen selama mungkin;
(3) Memperpanjang kontrak dengan agen untuk menjadi relasi. Selanjutnya
responden diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai komponen-komponen
tersebut berdasarkan pada 5 (lima) poin skala Lokert, mulai dari 1 =
sangat tidak setuju sampai dengan 5= sangat setuju. Memelihara sebagai
relasi, diukur melalui 3 (tiga) indikator yaitu: (1) Melanjutkan
hubungan berupa pemasangan iklan baru yang sedang diproses; (2)
Melanjutkan hubungan dengan memasang iklan baru; (3) Memelihara
hubungan baik dengan agen. Selanjutnya responden diminta untuk menjawab
pertanyaan mengenai komponen-komponen tersebut berdasarkan pada 5
(lima) poin skala Likert, mulai dari 1 = sangat tidak setuju sampai
dengan 5= sangat setuju. Investasi dalam berhubungan diukur melalui 3
(tiga) indikator sebagai berikut: (1) Keinginan untuk memecahkan
masalah selama menjadi relasi; (2) Keinginan untuk melakukan investasi
selama menjadi relasi; (3) Keinginan untuk menaikkan anggaran iklan
bilamana diminta agen. Populasi dalam penelitian ini meliputi
perusahaan yang menjadi klien PT Balai Iklan. Sedangkan yang menjadi
unit analisisnya adalah perusahaan yang memasang iklan selama tahun
2003. Metode penentuan sampel penelitian yang dipakai yaitu Simple
Random Sampling pada semua perusahaan yang memasang iklan melalui PT
Balai Iklan, dengan cara menentukan sampel minimal dengan Maximin
Method dengan derajat kepercayaan (Level of Significant alpha = 0,05),
Bound of Error (BE) yang diinginkan adalah 5% dengan alasan bahwa
kondisi populasinya bersifat Homogen. Ukuran sampel penelitian ini
adalah 314 perusahaan. Uji Instrumen, hasil pengujian discriminating
power (validitas dan reliabilitas) tiap-tiap butir pernyataan dalam
kuesioner yang tujuannya untuk mengetahui apakah butir-butir tersebut
dapat digunakan (layak atau tidak). Untuk pengujian ini digunakan
korelasi Rank Spearman dengan kaidah keputusan diadopsi dari Muller
(1986), yaitu: Jika rs > 0 dan signifikan = Item dapat dipergunakan
Jika rs > 0 dan non signifikan = Item tidak dapat dipergunakan Jika
rs = 0 = Item tidak dapat dipergunakan Jika rs < 0 dan non
signifikan = Item tidak dapat dipergunakan Jika rs < 0 dan
signifikan = Item harus diperiksa mungkin ada kekeliruan. Hasil
analisis item dengan menggunakan Korelasi Spearman sebagai berikut: Uji
Kesahihan (Validitas Test) Uji kesahihan dilakukan untuk mengetahui
apakah instrumen ukur yang digunakan tepat mengukur apa yang ingin
diukur atau tidak. Berdasarkan uji kesahihan item pernyataan dalam
kuesioner penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut: (a) Setiap
item berkorelasi positif dengan skor total dan signifikansi pada level
= 0,05. (b) Koefisien korelasi item pernyataan yang berkaitan dengan
kualitas pelayanan, skor total berkisar 0,694 sampai dengan 0,758 pada
taraf nyata di level alpha = 0,05. (c) Koefisien korelasi item
pertanyaan yang berkaitan dengan keterikatan klien, skor total berkisar
0,695 sampai dengan 0,857 pada taraf nyata di level alpha = 0,05. (d)
Koefisien korelasi antara item pertanyaan yang berkaitan dengan
kepercayaan skor total berkisar antara 0,652 sampai dengan 0,833 pada
taraf nyata di level alpha = 0,05. (e) Koefisien korelasi item
pertanyaan yang berkaitan dengan keinginan menjadi relasi, skor total
berkisar 0,618 sampai dengan 0,834 pada taraf nyata di level alpha =
0,05. Uji Keandalan (Reliability Test) Uji keandalan dilakukan untuk
mengetahui sejauhmana pengukuran yang telah dilakukan. Berdasarkan uji
keandalan item pernyataan dalam kuesioner penelitian ini diperoleh
hasil sebagai berikut: (a) Setiap item berkorelasi positif dengan skor
total dengan signifikansi pada level alpha = 0,05. (b) Koefisien
korelasi antara item pertanyaan yang berkaitan dengan kualitas
pelayanan dengan skor total berkisar 0,628 sampai dengan 0,923 pada
taraf nyata di level alpha = 0,05. (c) Koefisien korelasi antara item
pertanyaan yang berkaitan dengan keterikatan klien dengan skor total
berkisar 0,572 sampai dengan 0,787 pada taraf nyata di level alpha =
0,05. (d) Koefisien korelasi antara item pertanyaan yang berkaitan
dengan kepercayaan dengan skor total berkisar antara 0,634 sampai
dengan 0,972 pada taraf nyata di level alpha = 0,05. (e) Koefisien
korelasi antara item pertanyaan yang berkaitan dengan keinginan menjadi
relasi dengan skor total berkisar 0,592 sampai dengan 0,752 pada taraf
nyata di level alpha = 0,05. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
teknik komunikasi tidak langsung, yaitu menggunakan instrumen berupa
kuesioner. Penelitian ini menggunakan data primer. Data primer yaitu
data yang diperoleh dari daftar pertanyaan (kuesioner) yang diberikan
kepada responden. Responden dalam penelitian ini adalah pimpinan
perusahaan yang berwewenang memberikan informasi mengenai kualitas
pelayanan, keterikatan klien, kepercayaan dan keinginan menjadi relasi
PT Balai Iklan. Untuk menguji hipoetsis dilakukan analisis korelasi dan
regresi. Dengan Analisis ini dapat diketahui besarnya pengaruh
masing-masing variabel bebas (penyebab) terhadap variabel tak bebas
(akibat). Besarnya pengaruh dari variabel bebas ke variabel akibat
dinyatakan oleh besarnya bilangan koefisien determinan (determinant
coefficient). Untuk memudahkan dan menghasilkan perhitungan yang
akurat, maka digunakan jasa komputer dengan Software yang telah
diprogram oleh ahlinya, yaitu: Statistic Program Social Science (SPSS)
versi 12.01 for Windows. Langkah-langkah pengujian hipotesis dalam
penelitian ini dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut: (1)
Merumuskan Hipotesis Statistik (H0) dan Hipotesis kerja (Hi) (2)
Menetapkan signifikansi dan statistik ujinya (3) Mengitung koefisien
korelasi (4) Menghitung koefisien regresi (5) Menghitung koefisien
determinasi (6) Melakukan pengujian dan interpretasi (7) Menyusun
kesimpulan
4. Hasil dan Pembahsan Dari 314 perusahaan yang diteliti,
sebagian besar perusahaan yang menjadi responden penelitian ini
Industri manufaktur (70,15%), sisanya Hotel dan Travel (15,23%), Bank,
Credit Agencies Other than Bank, Insurance and Real Estate (9,57%),
Agriculture, Forestry, and Fishing (3,35%), Construction (1%) dan
Mining and Mining Service (0,7%). Pendidikan responden sebagian besar
adalah Diploma yaitu mencapai 53,82%, dan sisanya adalah Sarjana yang
mencapai 46,18%. Berdasarkan pengalaman kerjanya, secara umum responden
memiliki pengalaman kerja 5-10 tahun yaitu mencapai 42,99%, sedangkan
yang memiliki pengalaman kerja 10-15 tahun mencapai 36,94% dan
responden yang paling rendah persentase berdasarkan pengalaman kerjanya
adalah mereka yang memiliki pengalaman kerja sampai dengan 5 tahun,
yaitu 0,64%.
Hasil penelitian mengenai tanggapan responden atas
masing-masing variabel penelitian mengenai deskripsi dari masing-masing
variabel dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Kualitas Pelayanan 63,41%
2. Keterikatan Klien 64,87%
3. Kepercayaan 66,06%
4. Keinginan menjadi
relasi 66,50%
5. Memelihara hubungan 73,25%
6. Keinginan investasi
dalam hubungan 71,91%
Kondisi yang terjadi adalah sebagai berikut:
(1)
Kualitas pelayanan dari Balai Iklan yang dirasakan oleh konsumen
mencapai mencapai 63,41% atau termasuk kategori tinggi;
(2) Keterikatan
klien terhadap Balai Iklan mencapai 64,87% atau termasuk kategori
tinggi;
(3) Tingkat kepercayaan klien terhadap Balai Iklan mencapai
66,06% atau termasuk kategori tinggi;
(4) Keinginan dari klien menjadi
relasi dari Balai Iklan mencapai 66,50% atau termasuk kategori tinggi;
(5) Persepsi klien terhadap upaya untuk memelihara hubungan mencapai
73,25% atau termasuk kategori tinggi;
(6) Keinginan untuk berinvestasi
dalam berhubungan mencapai 71,91% atau termasuk kategori tinggi.
Sejauh
ini tanggapan klien tentang kualitas pelayanan, rasa keterikatan
terhadap Balai Iklan, tingkat kepercayaan klien, keinginan klien untuk
menjalin relasi, persepsi untuk memelihara hubungan dan persepsi klien
terhadap keinginan Balai Iklan untuk berinvestasi dalam berhubungan
berada pada kondisi yang baik. Lebih jauh kondisi ini menggambarkan
tanggapan yang positif dari klien terhadap Balai Iklan, khususnya yang
terkait dengan jasa-jasa yang diterimanya dalam bidang periklanan.
Sesuai dengan model paradigma penelitian yang telah dikemukakan
sebelumnya, ada 4 hipotesis yang diajukan.
Hipotesis Pertama
Berdasarkan perhitungan diperoleh hasil thitung = 7,627 sedangkan
t tabel pada tingkat signifikan 95% (alpha = 0,05) dan Degree of Fredom
(Df = 314-6-1) sama dengan 1,960 (lihat tabel Distribusi t), maka
thitung lebih besar dari pada ttabel, atau alpha = 0,05 sedang p-Value
(Sig.)=0,000, berarti alpha > p-Value (Sig.). Dengan demikian
hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan
antara kepercayaan terhadap keinginan menjadi relasi dapat diterima
dengan indikasi besarnya pengaruh tersebut mencapai 15,70%.
Berdasarkan
hasil pengujian hipotesis tersebut dapat diketahui bahwa kepercayaan
yang dimiliki klien terhadap perusahaan balai iklan memiliki pengaruh
yang berarti terhadap keinginan untuk menjalin relasi walaupun dengan
tingkat pengaruh yang relatif kecil (15,70%). Hal tersebut
mengindikasikan bahwa keinginan klien untuk menjalin relasi dengan
Balai Iklan harus diawali dengan adanya kepercayaan. Hal tersebut
sejalan dengan pendapat Morgan dan Hunt (1994) yang mengemukakan bahwa
to that end, trust can be regarded as a valuable component of any
successful relationship. Selain itu kondisi ini juga sejalan dengan
hasil penelitian Gounaris dan Venetis (2002) yang mengemukakan bahwa
data statistik yang terdapat dalam penelitian tersebut mendukung
hipotesis (H1 suggests a positive relationship between the extent to
which the client trust the service provider).
Hipotesis kedua
Berdasarkan perhitungan diperoleh hasil thitung = 7,104 sedangkan
ttabel pada tingkat signifikan 95% (alpha = 0,05) dan Degree of Fredom
(Df = 314-6-1) sama dengan 1,960 (lihat tabel Distribusi t), maka
thitung lebih besar dari pada ttabel, atau alpha = 0,05 sedang p-Value
(Sig.)=0,000, berarti alpha > p-Value (Sig.)
Dengan demikian
hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan
antara kepercayaan terhadap pemeliharaan hubungan dapat diterima dengan
indikasi besarnya pengaruh tersebut mencapai 13,90%. Berdasarkan kajian
hipotesis tersebut maka dapat diketahui bahwa kepercayaan klien
terhadap Balai Iklan berpotensi untuk mempengaruhi memelihara hubungan
walaupun dengan kadar pengaruh yang rendah (13,90%).
Hal tersebut lebih
jauh mengindikasikan bahwa keinginan untuk memelihara hubungan harus
diawali dulu oleh adanya kepercayaan. Hal tersebut sejalan dengan hasil
penelitian dari Gounaris dan Venetis (2002) yang mengemukakan bahwa
there is positive relationship between the extent to which the client
trust the service provider and the client's willingness to maintain the
relationship.
Hipotesis Ketiga Berdasarkan perhitungan diperoleh hasil
thitung = 14,827 sedangkan ttabel pada tingkat signifikan 95% (alpha =
0,05) dan Degree of Fredom (Df = 314-6-1) sama dengan 1,960 (lihat
tabel Distribusi t), maka thitung lebih besar dari pada ttabel, atau
alpha = 0,05 sedang p-Value (Sig.)=0,000, berarti alpha > p-Value
(Sig.).
Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat
pengaruh yang signifikan antara kepercayaan terhadap keinginan
investasi dalam hubungan dapat diterima dengan indikasi besarnya
pengaruh tersebut mencapai 13,90%. Berdasarkan kajian hipotesis
tersebut maka dapat diketahui bahwa kepercayaan klien terhadap Balai
Iklan berpotensi untuk mempengaruhi keinginan untuk investasi dalam
hubungan dengan kadar pengaruh yang cukup (41,30%). Hal tersebut lebih
jauh mengindikasikan bahwa keinginan untuk berinvestasi dalam hubungan
harus diawali dulu oleh adanya kepercayaan. Hal tersebut sejalan dengan
hasil penelitian dari Gounaris dan Venetis (2002) yang mengemukakan
bahwa there is positive relationship between the extent to which the
client trust the service provider and the client's willingness to
invest in further strenghtening the relationship.
Hipotesis Keempat
Berdasarkan perhitungan diperoleh hasil Fhitung = 29,822 sedangkan
Ftabel pada tingkat signifikan 95% (alpha = 0,05) dan Degree of Fredom
(Df/n-k-1 = 6/(147-4-1)) sama dengan 2,10 (lihat tabel Distribusi t),
maka thitung lebih besar dari pada ttabel, atau alpha = 0,05 sedang
p-Value (Sig.)=0,000, berarti alpha > p-Value (Sig.).
Dengan
demikian hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan antara kualitas pelayanan dan keterikatan klien terhadap
kepercayaan. dapat diterima dengan indikasi besarnya pengaruh tersebut
mencapai 16,10%. Berdasarkan hasil uji hipotesis tersebut dapat
diketahui bahwa secara bersama-sama kualitas pelayanan yang dipersepsi
klien dan keterikatan klien memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
terbentuknya kepercayaan walaupun dengan kadar pengaruh yang rendah
(16,01%). Hal tersebut secara tegas mengindikasikan bahwa kualitas
pelayanan dan rasa keterikatan klien merupakan syarat penting dalam
membentuk kepercayaan klien terhadap penyedia jasa (service provider).
Kondisi ini sejalan dengan hasil penelitian Gounaris dan Venetis (2002)
yang menunjukkan bahwa data dalam penelitian mereka mendukung rumusan
hipotesis yang mengemukakan bahwa terdapat pengaruh dari kualitas jasa
dan keterikatan klien terhadap kepercayaan yang terbentu.
5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka kesimpulan penelitian ini
adalah: (1) Kepercayaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
keinginan menjadi relasi (relationship intentions) pada klien Balai
Iklan, dengan tingkat pengaruh yang rendah; (2) Kepercayaan (trust)
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pemeliharaan hubungan
(maintain relationship) pada klien Balai Iklan, dengan tingkat pengaruh
yang rendah; (3) Kepercayaan (trust) memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap investasi berhubungan (invest in relationship), dalam tingkat
pengaruh yang cukup; (4) Kualitas jasa yang diterima dan customer
bonding memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepercayaan klien
terhadap penyedia jasa, dengan tingkat pengaruh yang rendah Dengan
demikian secara umum hasil penelitian ini sejalan dengan konsep serta
data penelitian yang dikemukakan oleh Gounaris dan Venetis (2002).
Aspek kepercayaan sangat penting dalam kaitannya untuk mempengaruhi
keinginan konsumen dalam memelihara hubungan dan berinvestasi dalam
hubungan. Pihak manajemen pada service provider harus berupaya
sedemikian rupa untuk menumbuhkan kepercayaan klien. Hal lain
terbentuknya kepercayaan dipengaruhi oleh adanya persepsi akan kualitas
jasa yang diberikan oleh service provider serta keterikatan konsumen
(customer bonding) yang dirasakan oleh klien terhadap penyedia jasa.
Untuk itu penyedia jasa perlu senantiasa memberikan kualitas jasa yang
unggul dan membangun ikatan hubungan yang erat dengan konsumen. Hal
tersebut antara lain dapat terlaksana dengan menjalankan pemasaran
relasional.
6. Referensi Anderson, E dan Weitz B. 1992. The use of
pledges to build and sustain Commitment in distribution channels.
Journal of Marketing Research. Vol. 28. February.
Batesan, John, E G,
(1995). Managing Services Marketing, Third Ed., Orlando: The Dryden
Press.
Berry, Leonard L. Parasuraman. (1991). Marketing Service:
Competing Through Quality. New York: The Free Press.
Chang, Susan;
Mariko Morimoto. 2003. Consumer Attitudes on Unsolicited e-Mail and
Direct Mail. Paper submitted to the Association for Education in
Journalism and Mass Communication Conference, July 30- August 2, 2003.
Davidaw, William H and Bro Uttal, (1989). Total Customer Service: The
Ultimate Weapon. New York: Harpen & Row Publisher.
Endar Sugiarto,
(1991). Psikologi Pelayanan Komunikasi. Edisi ke-2. Bandung: PT
Gramedia Pustaka Umum.
Ganesan, S. 1994. Determinants of long term
orientation in buyer seller relationship. Journal of Marketing. Vol 58.
No. 2.
Griffin, Jill, 1996, Customer Loyalty: How to Earn It, How to
Keep it, Second Ed., New York : Lexington Books.
Gounaris, Spiros dan
Karin venetis. 2002. Trust in Industrial Service Relationships:
behavioral and moderating effect of the duration of the relationship.
Journal of Service Marketing Vol. 16 No. 7.
Lewis, Robert C., and
Bernard H. Booms., 1983. The Marketing Aspeccts of Sevice Quality. In
L. Berry, G. Shostack, and G. Upah (Eds), Emerging Perspectives on
Service Marketing. Chicago: American Marketing Association, pp. 99 –
107.
Lovelock, Christopher H, 1991, Service Marketing, second edition.
New Jersey USA: Prentice Hall International.
Morgan, Robert M dan
Shelby D. Hunt. 1994. The Commitment-Trust Theory of Relationship
Marketing. Journal of Marketing. 58., 20-38 Payne, Adrian 2000, The
Essence of Services Marketing, Yogyakarta: Andi.
Rust, R, T. and A. J.
Zahorik 1993. Customer Retention and Market Share. Journal of Retailing
69 (Summer): pp 145-56.
Rust, Roland T., Anthony J. Zahorik, Thimothy
L. Keiningham, 1996. Service Marketing. New York: Harpen Collins
College Publishers.
Schiffinan dan Kanuk, 1997, Customer Behavior,
Edisi 5, Englewood Cliffs, N.J. : Prentice-Hall, Inc. Solomon, Michael.
2002, Consumer Behaviour. 5th Edition (International Edition). New
Jersey: Prentice Hall.
Sutisna, (2004). Perilaku Konsumen &
Komunikasi Pemasaran. Cetakan Pertama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Fandy Tjiptono, 1997, Strategi Pemasaran, Penerbit Andi Yogyakarta.
Winardi. 1991. Marketing dan Perilaku Konsumen. Bandung: Mandar Maju.
Zeitamhl, Valerie A. 1988. Consumer Perceptions of Price, Quality, and
Value: A Means-End Model and Synthesis of Evidence. Journal of
Marketing 52 (July): pp 2-22.
Zeithaml, A, V., L.L, et al. 1996. The
Behavioral Cosequences of Service Quality.”Journal of Marketing Vol.60
(April 1996): pp 31-46